sewa ambulance

Author: admin

Ketahui Berbagai Khasiat Yogurt untuk Anak dan Saat yang Tepat untuk Memperkenalkannya!

Yogurt merupakan produk susu fermentasi yang mengandung probiotik yaitu bakteri baik yang berguna dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menjaga kesehatan saluran pencernaan. Namun, apakah aman memberikan yogurt untuk anak? Dan apa manfaat yogurt untuk anak-anak?

Apakah Yogurt Aman untuk Anak-Anak?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yogurt mengandung probiotik. Probiotik tersebut merupakan bakteri yang memiliki manfaat bagi kesehatan terutama saluran pencernaan. Karenanya, memberikan yogurt kepada anak sebenarnya bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menunjang kesehatannya.

Untuk anak-anak, yogurt bisa diberikan sejak ia berusia sekitar 6 bulan sebagai menu pelengkap. Namun, jika Anda masih ragu untuk memberikannya kepada si kecil, Bunda bisa menunggu hingga ia berusia sekitar 9 bulan.

Baca juga: 4 Manfaat Yogurt untuk Kesehatan

Manfaat Yogurt untuk Anak

Selain baik untuk kesehatan pencernaan, yogurt juga memiliki berbagai manfaat lain untuk kesehatan si kecil. Nah, berikut beberapa manfaat yogurt untuk anak:

  1. Kaya akan kalsium

Susu dianggap sebagai asupan penting di masa kanak-kanak karena memiliki kandungan kalsium yang tinggi. Sayangnya, tidak semua anak mudah menerima susu. Selain itu, kalsium juga tidak tersedia pada banyak jenis makanan lainnya.

Yogurt diketahui memiliki konsentrasi kalsium yang tinggi, bahkan lebih banyak dari susu. Secangkir kecil yogurt dapat menyediakan hampir 450 mg kalsium untuk seorang anak. Hal ini tentunya akan bermanfaat bagi perkembangan tulang dan juga membuat si kecil menjadi lebih kuat.

  1. Mengandung probiotik

Susu diubah menjadi yogurt melalui aktivitas bakteri, yang membuatnya mengandung probiotik. Saat anak-anak minum yogurt secara teratur, saluran pencernaannya dipenuhi dengan probiotik, yaitu bakteri baik. Hasilnya, tentunya kekebalan tubuh mereka akan terjaga dan sistem pencernaan bisa berjalan dengan lancar.

  1. Mengandung banyak protein

Dalam 1 sendok besar yogurt ini hampir setara dengan 1 butir telur. Protein ini dapat membantu si kecil mendapatkan energi yang dibutuhkannya untuk aktivitas sehari-hari.

  1. Kendalikan berat badan Anda

Konsumsi junk food yang berlebihan atau kebiasaan makan yang buruk dapat meningkatkan risiko anak mengalami obesitas. Untuk mencegah si kecil dari kondisi ini, mulailah mengubah pola makannya dengan memasukkan yogurt dalam menu hariannya.

Makan yogurt dalam jumlah yang cukup dapat membantu si kecil merasa kenyang lebih cepat dari biasanya. Dengan demikian, ini juga dapat membantu mereka membatasi konsumsi makanan yang berlebihan serta memperoleh energi yang dibutuhkan.

  1. Yogurt bisa disajikan dengan berbagai macam makanan

Kalau si kecil tidak suka makan yogurt dalam bentuk biasanya tidak apa-apa. Yogurt bisa dengan mudah dipadukan dengan jenis makanan lain, seperti salad dressing, fruit shake, atau frozen yogurt yang lebih mirip es krim.

Baca juga: Dari 6 Jenis Yogurt Ini, Mana yang Jadi Favoritmu?

Ivenet Finger Yogurt, Pilihan Yogurt Sehat untuk Si Kecil

Finger Yoghurt Semua Varian Ivenet | Saya sehat

Nah, setelah mengetahui berbagai manfaat yogurt yang menyehatkan bagi tubuh, tentunya Bunda tidak mau ketinggalan untuk mengenalkan si kecil dengan yogurt ya. Eits, nggak perlu bingung memilih jenis produk yogurt yang aman untuk si Kecil ya Bunda. Ivenet Finger Yogurt, hadir sebagai pilihan yogurt sehat untuk Bunda.

Dalam 1 bungkus Ivenet Finger Yogurt terdapat sekitar 2 milyar Lactobacillus yang merupakan salah satu jenis bakteri baik yang berguna untuk menjaga sistem pencernaan si kecil. Ivenet Finger Yogurt juga diolah dengan metode pengeringan beku, yang menyimpan semua nutrisi baik di dalamnya.

Tersedia dalam 4 pilihan rasa yang pasti disukai anak-anak yaitu plain, strawberry, blueberry, dan banana yang tentunya membuat anak tidak akan menolak saat diberikan Ivenet Finger Yogurt.

Finger Yoghurt Ivenet | Saya sehat

Selain rasanya yang bervariasi, Ivenet Finger Yogurt juga didesain khusus berbentuk bulat sehingga memudahkan si kecil untuk mengambil makanannya sendiri. Bentuk bulat ini juga bisa membantu si kecil melatih otot-otot di tangannya saat menggenggam. Jadi selain menyehatkan, Ivenet Finger Yogurt juga bisa melatih motorik anak. Ivenet Finger Yogurt dapat dikonsumsi oleh si kecil berusia 7 bulan ke atas dan aman untuk anak yang mengalami intoleransi gluten karena bebas gluten. (TAS)

Baca juga: 7 Pilihan Buah dan Sayur untuk Bayi di Awal MPASI

Referensi

Parenting First Cry. "Yoghurt untuk Anak – Manfaat, Resiko dan Resep".

Pengetahuan Produk tentang Yoghurt Jari Ivenet.

Kapan Anak Bisa Dibiarkan Menangis?

Namanya juga balita, ia masih suka menangis untuk mengungkapkan perasaannya, misalnya saat sedang sedih, marah, takut, atau merasa sakit. Meski begitu, ada kalanya Bunda merasa berat dan sedih melihat si kecil menangis. Di lain waktu, Ibu menjadi kaku ketika dia sedikit menangis, bahkan untuk apa yang menurut Ibu sepele. Sebenarnya, kapan anak boleh menangis?

Penyebab Umum Anak Menangis

Menangis adalah respons emosional manusia yang umum dan alami, terutama pada anak-anak. Namun, sebagai orang biasa, ada kalanya orang tua yang paling sabar pun akan terganggu oleh anak yang menangis terus menerus. Alih-alih mencoba membujuk si kecil untuk berhenti menangis, yang keluar adalah peringatan akan sebuah ancaman.

"Apakah anak laki-laki menangis, ya?" Ini sering terjadi pada anak laki-laki.

"Kenapa kamu begitu cengeng di pagi hari?"

"Jangan menangis atau kamu tidak bisa …" Isikan sendiri jenis ancamannya.

Menurut dr. Sazini, konsultan menjadi orang tua, Khususnya bagi anak berkebutuhan khusus, penyebab umum anak menangis bukan hanya karena sakit fisik, mereka juga bisa menangis karena merasa sedih, kecewa, marah dan frustasi.

Baca juga: Kok Bisa Ganggu Kakakmu?

Kalau karena sakit fisik, seperti dipukul atau jatuh dan cedera biasanya lebih gampang. Bunda bisa membujuk si kecil untuk tenang saat merawat lukanya. Dalam waktu singkat, biasanya balita akan melupakan rasa sakit yang dialaminya sebelumnya dan kembali bermain dengan gembira.

Namun bagaimana dengan beberapa penyebab lainnya, seperti perasaan marah, sedih, kecewa, dan frustasi? Tentunya ada beberapa cara yang bisa Bunda lakukan, misalnya mencoba mengalihkan perhatian si kecil dengan mainan, mengajaknya bermain, membujuknya dengan jajan, hingga menggendong dan membujuknya untuk berhenti menangis.

Kepanikan dan ketidaknyamanan pasti terjadi, terutama di ruang publik. Ada juga orang tua yang mengancam anaknya yang tidak mau berhenti menangis, misalnya dengan mengancam agar tidak mendapat jajan. Sayangnya, terkadang beberapa metode ini tidak berhasil. Kenapa begitu, Bu?

  • Jenis emosi yang terlalu memecah belah

Padahal, manusia memiliki segala macam emosi yang harus dilampiaskan sesekali. Sayangnya, masyarakat cenderung terlalu banyak mengkategorikan emosi, sehingga membatasi kebebasan berekspresi.

Misalnya, emosi yang dianggap baik dan positif adalah kegembiraan, antusiasme, dan kasih sayang. Sedangkan yang dianggap emosi buruk dan negatif adalah kesedihan, amarah, dan ketakutan. Faktanya, wajar untuk mengalami semua emosi ini. Tentunya dengan porsi yang tidak berlebihan.

Baca juga: Bolehkah Mengikis Anak?

  • Lupa kalau kemampuan ekspresi anak masih terbatas

Ingat, si kecil yang masih balita tidak bisa mengontrol dirinya saat sedang emosi. Ada begitu banyak hal yang dapat membuatnya frustasi, bahkan hal-hal yang menurut Ibu atau orang dewasa mungkin sangat remeh. Kemampuan anak berekspresi juga masih terbatas. Menangis atau mengamuk masih menjadi andalannya saat ia merasa sedih atau marah.

Tentu saja, anak-anak yang sedikit menangis juga tidak baik. Namun jika dari awal Bunda dan Ayah selalu melarangnya menangis, maka anak akan merasa ada yang tidak beres dengan dirinya karena ia menangis.

Akibatnya, anak-anak rentan terjebak dalam toxic positivity karena terpaksa mengubur perasaannya yang sebenarnya. Nggak mau si kecil malah pura-pura bahagia demi menyenangkan Bunda dan Ayah, padahal hatinya sedang sakit?

Jadi, kapan anak Anda boleh menangis?

Menurut Erin King, manajer penitipan anak dan penulis Bagaimana Menjadi Bijaksana, tidak semua tangisan si kecil harus diperlakukan sebagai masalah darurat. Ada kalanya anak-anak melakukannya dengan sengaja untuk mendapatkan perhatian atau kesal Bunda dan Ayah. Lalu, bagaimana membedakan tangis yang harus dibiarkan begitu saja?

  1. Saat tidak sabar

Misalnya si kecil haus dan ingin minum susu. Dia tidak sabar dan menangis ketika Mums berhasil. Kalau sudah begini, ingatkan saja si kecil agar sabar dan menangis tidak akan mempercepat semua keinginannya terwujud.

  1. Ketika Anda harus belajar menerima penolakan

Namanya juga anak kecil, pasti sulit mengontrol dirinya sendiri. Namun, jangan dijadikan alasan untuk membiarkan dia melakukan apa yang dia suka. Ada kalanya si kecil harus belajar menerima penolakan terutama untuk kebaikannya sendiri.

Misalnya, saat dia pergi ke toko serba ada dengan si kecil, dia meminta untuk membelikannya es krim. Faktanya, dia sedang sakit tenggorokan, jadi dia harus menghindari mengkonsumsi semua yang manis dan dingin. Anak-anak menangis dan mengamuk mungkin saja terjadi, tetapi Bunda terkadang harus menanggungnya demi kebaikannya.

Baca juga: Ketika seorang anak bertanya dari mana asalnya

  1. Saat beraksi di ruang publik, hal itu mengganggu ketenangan sekitar

Saat si kecil tiba-tiba merasa bosan atau lelah, terkadang ia mulai bertingkah. Dipelototi oleh orang sekitar, Bunda merasa risih dan buru-buru menggendongnya untuk kabur dari lokasi. Padahal, cara ini justru akan membuat si kecil tidak bisa belajar.

Mungkin ini akan terasa lama dan sedikit malu, tapi cobalah sesekali Bunda diam saja dan tatap si kecil sampai akhirnya dia berhenti sendiri. Atau, Bunda juga bisa diam saja dan perlahan keluar dari tempat kejadian. Hindari membentak anak Anda di depan umum, yang justru akan membuatnya menangis semakin parah.

  1. Saat Anda menolak untuk melakukan apa yang diperintahkan

Si kecil tidak mau merapikan mainannya sendiri? Apakah dia masih suka mencorat-coret di dinding, dengan Ibu & # 39; lipstik favorit padahal sudah dilarang? Menyarankan balita harus ekstra sabar, Bunda. Selain harus diingatkan berkali-kali, Bunda terkadang bisa memberikan hukuman kepada anak.

Tentu hukumannya bukan pelecehan fisik maupun verbal lho. Misalnya si kecil tidak mendapatkan snack kesukaannya hari itu atau mainannya dikunci di lemari sepanjang hari. Pasti akan nangis, tapi tunjukan bahwa bunda serius jadi anak tidak melakukannya lagi.

Semoga beberapa contoh di atas dapat membantu Bunda dan Ayah dalam membesarkan si kecil! Yang penting, Anda harus tetap tenang dan menunjukkan bahwa Anda mengendalikan situasi. (KAMI)

Baca juga: Makanan Ini Bisa Pengaruhi Suasana Hati Anak, Lho!

Referensi

Medium: Saat boleh membiarkan balita menangis

One Time Through: KENAPA ANAK ANDA MENANGIS

dr. Sazini: Mengapa Anda Harus Membiarkan Anak Anda Menangis

Live Science: Balita Menangis: Apa Penyebabnya, dan Cara Mengatasinya

Tinggi Dikurangi? Awas, tandanya tulang keropos

20 Oktober diperingati sebagai Hari Osteoporosis Sedunia. Osteoporosis adalah suatu kondisi dimana kepadatan tulang berkurang sehingga rentan mengalami patah tulang atau patah tulang. Orang awam menyebutnya tulang keropos.

Karena tidak mematikan, sebagian orang tidak menganggap osteoporosis sebagai penyakit berbahaya. Apalagi tidak ada gejala sama sekali, hingga tiba-tiba penderita mengalami benturan ringan dan mengalami patah tulang. Pada orang dengan tulang yang sehat, benturan ringan tidak menyebabkan patah tulang atau patah tulang.

“Osteoporosis bukanlah suatu kondisi yang harus dianggap enteng atau dapat diabaikan. Jika sudah terjadi patah tulang maka akan menimbulkan rasa sakit dan menurunkan kualitas hidup pasien. Selain itu membutuhkan biaya yang mahal untuk perawatannya, ”jelas dr dr Rudy Hidayat SpPD (KR), dari Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi) dalam Instagram Live yang diselenggarakan Anlene, Selasa (20/10).

Baca juga: Kenali Penyebab Penyakit Osteoporosis dan Cara Mencegahnya!

Menghemat Massa Tulang Sejak Dini

Ketua Perosi, Dr. Fiastuti Witjaksono SpGK menjelaskan salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis adalah usia, berat badan berlebih, kekurangan kalsium dan vitamin D, serta gaya hidup yang kurang aktif.

“Usia tidak bisa diubah, jadi salah satu upaya untuk menjaga kesehatan tulang adalah dengan mengubah apa yang bisa diubah, misalnya memperbaiki pola makan, tidak kekurangan kalsium dan vitamin D,” terangnya.

Kalsium dan vitamin D dibutuhkan untuk menjaga tulang tetap sehat dan kuat. Tulang yang sehat ditandai dengan massa tulang yang padat, sehingga tidak terdapat gigi berlubang (porous). Kepadatan tulang terbentuk dari masa bayi hingga mencapai puncaknya pada usia puncak 20-30 tahun. Setelah itu, massa tulang akan berkurang secara alami dan bertahap. Setelah menopause, penurunan kepadatan tulang semakin cepat.

Oleh karena itu, jelas dr Rudy, simpanlah sebanyak mungkin massa tulang sebelum mencapai massa tulang puncak (massa tulang puncak) pada usia 20-30 tahun sangat dianjurkan. "Semakin tinggi kepadatan tulang di masa depan massa tulang puncak Ini, akan sangat berguna untuk penghematan saat massa tulang mulai berkurang. "

Bagaimana caranya? Fiastuti menambahkan, mengonsumsi makanan kaya kalsium merupakan salah satu cara meningkatkan kepadatan tulang sejak dini. Contoh makanan kaya kalsium adalah susu, yogurt, dan keju, atau ikan dengan tulang (teri, bandeng berduri lunak), kedelai, dan makanan berbahan dasar kedelai lainnya.

"Untuk vitamin D memang tidak banyak makanan yang mengandung vitamin D, kecuali ikan salmon. Namun kita bisa memenuhinya dari makanan yang sudah difortifikasi (diperkaya) dengan vitamin D, atau mendapatkannya langsung dari sinar matahari," terangnya.

Idealnya, kebutuhan kalsium berbeda dari orang ke orang. Anak-anak membutuhkan sekitar 700-1000 mg sehari, sedangkan remaja hingga dewasa membutuhkan antara 1.300 mg / hari.

Baca juga: Tanda Perempuan Kurang Gizi

Bisakah Kita Kelebihan Kalsium?

Kalsium dibutuhkan untuk menjaga kepadatan tulang dan menjaga fungsi organ lainnya. Namun, mengonsumsi secara berlebihan juga tidak disarankan. Menurut dr. Fiastuti, selama kita hanya mendapatkan kalsium dari makanan alami seperti susu, keju, ikan teri dan sebagainya, maka risiko kelebihan kalsium jarang ditemui.

Kelebihan kalsium dalam tubuh bisa menimbulkan masalah, seperti penyumbatan pembuluh darah dan pembentukan batu ginjal. Kondisi ini biasanya akibat mengonsumsi kalsium dari suplemen dengan kadar yang melebihi dosis. Oleh karena itu, penting untuk selalu berkonsultasi dengan dokter jika ingin mengonsumsi suplemen kalsium.

Menjaga kesehatan tulang tidak cukup hanya dari makanan. Agar penyerapan kalsium ke dalam tulang menjadi efektif dan optimal harus didukung dengan olahraga yang teratur. Setidaknya jalan kaki setiap hari, selama 30 menit.

Jika upaya tersebut sudah dilakukan, Geng Sehat dapat memastikan kesehatan tulang dengan rutin melakukan pengecekan kepadatan massa tulang. Pemeriksaannya mudah dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Jangan sampai telat ya karena kalau punya gejala osteoporosis berarti sudah terlambat. Misalnya, postur tubuh mulai bungkuk, dan tinggi badan menurun. “Ini gejala keropos tulang, dan sudah terjadi osteoporosis,” pungkas dr. Rudy.

Baca juga: Konsumsilah makanan yang mengandung mineral kalsium berikut untuk kesehatan tulang!

Referensi:

Worldosteoporosisday.org

Mayoclinic.com. Suplemen kalsium dan kalsium: Mencapai keseimbangan yang tepat

Polusi Udara Dalam Ruangan, Begini Cara Mengatasinya!

Mendengar kata polusi udara, yang terlintas di benak kita adalah buruknya kualitas udara di perkotaan akibat asap kendaraan bermotor, asap dari kegiatan pabrik industri, pembakaran sampah, dan sebagainya. Pencemaran udara yang terjadi di luar memang tidak ada habisnya dan berdampak sangat negatif bagi lingkungan dan kesehatan kita. Namun, polusi dalam ruangan juga bisa terjadi, lho!

Paparan sinar matahari, polusi kendaraan bermotor, dan suhu udara yang menyengat membuat sebagian orang lebih memilih tinggal di rumah. Namun, banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa polusi udara juga bisa terjadi di dalam ruangan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), kualitas udara dalam ruangan bisa dua hingga lima kali lebih kotor daripada kualitas udara di luar. Sumber pencemaran dalam ruangan seperti asap rokok, bulu hewan peliharaan, tungau debu, dan kotoran menyebabkan kualitas udara di rumah menjadi tidak sehat. Kualitas udara dalam ruangan yang buruk berdampak negatif pada kesehatan kita dan berisiko menyebabkan alergi terhadap asma.

Baca juga: Polusi Udara Turunkan Kesehatan Ovarium, Benarkah?

Cara Mengatasi Polusi Udara di Dalam Rumah

Tentu kita semua ingin menghirup udara bersih saat kita berada di dalam ruangan. Untuk menghindari efek buruk polusi dalam ruangan Untuk kesehatan, Anda dapat meningkatkan kualitas udara dalam ruangan dengan cara sebagai berikut:

1. Secara rutin membersihkan furnitur empuk di dalam rumah

Salah satu sumber pencemar di dalam rumah adalah partikel debu, tungau dan bakteri lain yang menempel dan masuk ke pori-pori furnitur yang empuk seperti sofa, karpet, tirai dan tempat tidur. Untuk itu, sangat disarankan untuk membersihkan furnitur menggunakan vacuum atau vacuum minimal 1-2 kali dalam sebulan.

Menggunakan mesin vacuum yang menggunakan media penyaringan air akan lebih baik, karena debu dan tungau akan terperangkap di dalam air dan tidak akan lepas kembali ke udara.

2. Gunakan Pemurni air untuk membersihkan udara

Seperti namanya, Pemurni air berfungsi untuk menjernihkan udara kotor dalam ruangan agar lebih bersih lagi. Alat ini mampu menyaring bakteri dan polusi kotor di dalam ruangan yang biasanya memicu alergi, asma, dan menghilangkan bau tak sedap dari asap rokok. Dengan begitu, polusi udara di rumah bisa dikurangi secara perlahan dan kesehatan keluarga tetap terjaga.

Baca juga: Cara Mudah Mencegah Efek Buruk Polusi Udara!

3. Jangan merokok di dalam rumah

Bukan rahasia lagi bahwa merokok berdampak negatif bagi tubuh seseorang dan juga orang di sekitarnya. Meski perokok sudah menjaga jarak dengan non-perokok di dalam rumah, residu asap rokok masih bisa menempel di permukaan furnitur sehingga tidak hilang.

4. Menggunakan tanaman untuk membersihkan udara di dalam ruangan

Selain berfungsi untuk mempercantik ruangan, menempatkan tanaman di dalam rumah juga bisa membantu membersihkan udara dengan lebih efektif dan memberikan efek relaksasi. Ada beberapa jenis tanaman yang bisa Anda coba masukkan ke dalam rumah, seperti sirih gading, lidah mertua, anggrek, lily perdamaian, dan pakis. Beberapa tanaman hias dalam ruangan ini akan membuat udara di ruangan Anda bersih dan segar.

5. Pentingnya Ventilasi di Rumah

Rumah yang sehat tentunya memiliki sirkulasi udara yang baik. Adanya ventilasi pada rumah dapat mengurangi bahkan menghilangkan kelembapan pada ruangan. Selain itu, polusi di dalam rumah bisa tergantikan dengan udara dari luar yang lebih segar dan sehat. Tentunya ini akan baik untuk kesehatan kita dan keluarga kita.

Ayo semakin sadar akan pentingnya kualitas udara dalam ruangan dan terapkan cara-cara di atas agar rumah kita tidak menjadi sumber polusi dan penyakit!

Baca juga: 5 Tanaman Herbal Murah Yang Bisa Ditanam di Rumah

Referensi:

Pusat Nasional untuk Informasi Bioteknologi Kualitas udara dalam ruangan

Cara Mudah Harvard Health untuk Meningkatkan Kualitas Udara Dalam Ruangan

Aturan Pemberian Obat Cacingan untuk Balita

Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi Bunda dan Ayah saat balita sedang mengalami pertumbuhan adalah cacingan. Infeksi yang terjadi karena adanya sekelompok parasit seperti cacing gelang dan cacing tambang di dalam perut atau usus. Biasanya cacing disebabkan oleh lingkungan yang tidak bersih. Jika tidak segera ditangani, cacingan bisa berdampak serius bagi kesehatan dan pertumbuhan si kecil, lho!

Ya, cacingan dapat merusak status balita dengan menyebabkan perdarahan internal yang dapat menyebabkan anemia, radang usus dan obstruksi, diare, serta gangguan nutrisi, pencernaan dan daya serap. Untuk mengobati cacingan, Bunda harus menjalani pengobatan yang prosesnya melibatkan penggunaan obat-obatan untuk membasmi cacingan.

Baca juga: Jika anak cacingan

Yuk, Deteksi Dini Gejala Cacingan pada Ibu Balita

Cacing usus adalah cacing parasit seperti cacing pita, cacing gelang, cacing kremi, dan cacing tambang yang dapat menyebabkan masalah begitu mereka mulai menginfeksi tubuh manusia. Jika tidak ditangani, cacing tersebut akan membusuk di dinding usus dan menyebabkan masalah kesehatan yang lebih parah. Penyebab cacingan pada balita banyak, umumnya karena air. Oleh karena itu, jika Bunda balita meminum air yang terkontaminasi maka akan terjangkit cacingan.

Lingkungan yang buruk alias tidak bersih merupakan penyebab lain cacingan masuk ke tubuh Bunda Balita. Selain itu, mengonsumsi makanan yang kurang matang dengan daging, ayam, buah dan sayuran yang terinfeksi dapat menyebabkan cacingan.

Selain itu, tanah yang penuh cacing merupakan penyebab lain terjadinya cacingan pada Ibu Balita. Hewan peliharaan yang terinfeksi juga dapat bertindak sebagai perantara. Hal tersebut dikarenakan, cacing parasit pada hewan peliharaan dapat dengan mudah berpindah ke si kecil.

Namun, cacing parasit berkembang biak di lingkungan yang tidak higienis. Biasanya saat si kecil menyentuh mainan atau bermain di tanah, ia akan mendapatkan telur cacing di tangannya, yang kemudian masuk ke tubuh saat ia menyentuh mulutnya atau memakan sesuatu secara langsung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Karena itu di Kecil perlu diberikan obat cacing untuk mengeluarkan cacing parasit dari dalam tubuh.

Diagnosis dini dapat membantu Bunda mengetahui apakah bayi kesayangan Anda menderita cacingan atau tidak. Setelah teridentifikasi, Bunda dapat dengan mudah merawat anak dengan obat cacing yang diresepkan dokter. Beberapa gejala cacingan pada anak antara lain sakit perut, kemerahan atau ruam pada bokong, muntah dan mual, berat badan turun, tidak nafsu makan, sembelit, diare, batuk terus menerus, sering buang air kecil, lapar sepanjang waktu, dan darah pada tinja. .

Baca juga: Lima jenis cacing penyebab cacingan

Aturan Pemberian Obat Cacingan untuk Balita

Jika Bunda mencurigai adanya infestasi cacing pada anak berdasarkan gejalanya, bawalah segera ke dokter untuk pengobatan. Pemberian Obat Cacing bertujuan untuk menghilangkan cacingan dan infeksi yang menyebabkan Bunda balita merasa tidak nyaman.

Usai diberi obat, anak ibu akan mengeluarkan cacing di ususnya melalui feses. Setelah sembuh, tubuh anak Bunda dapat menyerap vitamin A dan nutrisi lain yang dibutuhkan untuk proses tumbuh kembang. Dengan begitu, Bunda anak tidak akan mengalami malnutrisi dan bisa menambah berat badan.

Namun obat cacingan yang diberikan pada anak harus dalam pengawasan dokter. WHO merekomendasikan agar anak-anak di daerah endemis dirawat secara teratur dengan obat-obatan yang membunuh cacing parasit.

Kapan balita dapat mulai minum obat cacing untuk pencegahannya? Sesuai rekomendasi IDAI, pemberantasan cacing dapat dimulai sejak usia 2 tahun. Hal ini karena anak usia 2 tahun pernah kontak dengan tanah yang menjadi sumber penularan infeksi cacing. Pemberian obat cacing bisa diulang setiap 6 bulan.

Sedangkan untuk daerah non endemis obat cacing harus diberikan sesuai indikasi dan sesuai pemeriksaan dokter dengan pemeriksaan feses positif ditemukan telur cacing atau cacing.

Prinsip pemberian obat cacing pada anak adalah bila dari hasil pemeriksaan feses ditemukan telur cacing atau cacingan, dan memiliki gejala anemia, gangguan gizi dan kelelahan, lesu.

Baca juga: Awas Bunda, Cacing Bikin Si Kecil Tumbuh Stunting!

Pencegahan Cacingan

Setelah balita Anda terbebas dari cacingan, ada beberapa hal yang harus dilakukan Bunda dan Ayah agar buah hati tercinta tidak lagi terkena cacingan. Berikut beberapa tips agar balita terhindar dari cacingan:

  • Jaga kebersihan lingkungan sekitar anak
  • Terapkan kebiasaan bersih kepada anak setiap kali mereka bermain di luar rumah
  • Jangan biarkan anak bermain di rumput, pasir, atau area luar ruangan tanpa menggunakan alas kaki
  • Cuci sayur dan buah sebelum dikonsumsi anak
  • Sebelum memasak sayur dan memberi buah untuk dimakan anak, periksalah baik-baik adanya cacing atau tidak pada setiap buah dan sayur
  • Biasakan untuk tidak membiarkan anak makan daging mentah (terutama daging merah dan ikan) serta sayuran setengah matang yang mungkin mengandung cacing di dalamnya
  • Jangan sampai anak minum air mentah. Sebelum diminum, rebus airnya hingga matang terlebih dahulu
  • Pastikan anak mencuci tangan dengan sabun sebelum mengonsumsi apa pun
Baca juga: 4 Cara Mencegah Cacingan

Referensi:

Teriakan pertama. Cara Membasmi Cacing pada Anak Anda

WHO. Pemberian obat cacing pada anak-anak

Waktu India. Pemberian obat cacing memungkinkan anak untuk tumbuh lebih baik

Idai.or.id. Kapan Balita Perlu Minum Obat Cacing?

Saat Pandemi, Jangan Lupakan Ancaman Kematian akibat Penyakit Tidak Menular

Penyakit tidak menular (PTM) masih menjadi penyebab utama kematian di negara maju dan berkembang, mengalahkan penyakit menular. Penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian adalah penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit paru-paru kronis, kanker, dan diabetes.

Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung membuat layanan kesehatan lebih fokus pada pasien COVID-19. Akibatnya terjadi penurunan pelayanan penyakit tidak menular. Selain itu, pasien PTM seperti penderita hipertensi, jantung koroner, dan diabetes juga takut berobat ke rumah sakit karena rentan terhadap infeksi.

Hal ini tentunya tidak bisa dibiarkan, mengingat PTM merupakan penyakit yang membutuhkan penanganan seumur hidup. Penderita penyakit jantung dan pembuluh darah seperti jantung koroner atau hipertensi, misalnya, berisiko lebih besar meninggal jika penyakit tersebut tidak ditangani.

Sebagaimana dijelaskan Dr. dr. Anwar santoso, SpJP (K), FIHA dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita. "P.andemi COVID-19 telah mengganggu upaya pencegahan dan penanganan PTM di berbagai negara, termasuk Indonesia. Upaya harus dilakukan untuk terus memberikan layanan kesehatan esensial dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan PTM, terutama penyakit kardiovaskular,Dijelaskan Dr. Anwar dalam sesi seminar online yang diadakan oleh PT Pfizer Indonesia, Sabtu (17/10).

Hasil survei menunjukkan bahwa lebih dari separuh (53%) negara yang disurvei mengalami gangguan layanan pengobatan hipertensi, 49% untuk pengobatan diabetes dan komplikasinya, 42% untuk pengobatan kanker, dan 31% di antaranya untuk kondisi kardiovaskular dan darurat.

Baca juga: Jangan Tunda Pergi ke Rumah Sakit karena Takut Covid-19

Semua Rumah Sakit Berfokus pada Layanan COVID-19

Dr. Dr. Lia G. Partakusuma, Sp.PK, MM, MARS., Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) mengakui saat ini setiap rumah sakit berisiko menerima pasien COVID-19. Bukan hanya rumah sakit rujukan.

“Pasien COVID-19 yang dipastikan dapat dirawat di rumah sakit tanpa gejala penyakit pernapasan. Akibatnya, banyak pasien non COVID-19 tidak berani datang ke rumah sakit, ”jelas dr. Lia.

Masalah lain, saat terjadi pandemi. Petugas kesehatan harus dilindungi agar tidak terdaftar, sehingga membatasi volume layanan untuk pasien non COVID-19. Akibatnya, pasien PTM, termasuk pasien penyakit kardiovaskular, terlambat menerima layanan.

Bahkan, tambah dr. Lia, angka kematian akibat PTM mencapai 35% sebelum pandemi. Dengan adanya service barriers, diperkirakan angka kematian akan meningkat selama dan setelah pandemi.

Baca juga: Rumah Sakit Buka Layanan Staysolation untuk Isolasi Mandiri

Bagaimana upaya optimalisasi pengendalian PTM?

Untuk mencegah kematian yang lebih tinggi terkait PTM akibat pandemi, pakar multidisiplin dari 6 negara Asia Tenggara (Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Singapura) telah menyerukan tindakan segera dan efektif untuk mengoptimalkan pengendalian PTM. di Asia Tenggara, apalagi saat terjadi pandemi seperti sekarang.

Re rekomendasi yang telah diterbitkan di jurnal Kebijakan Manajemen Risiko dan Perawatan Kesehatan ini berusaha untuk mengatasi kesenjangan dalam kebijakan, sekaligus meningkatkan praktik klinis dan kesehatan masyarakat.

Seperti yang dijelaskan dr. Anwar, Rekomendasi yang diberikan mencakup skrining penyakit tidak menular secara lebih luas. Semakin cepat terdeteksi, semakin baik penyakit seperti penyakit kardiovaskular, kanker, atau diabetes dapat ditangani sebelum timbul komplikasi.

Rekomendasi lainnya adalah memperluas layanan telemedicine atau perawatan jarak jauh, untuk menghindari penularan COVIS-19. Menambahkan dr. Lia, saat ini rumah sakit sudah mulai membuka layanan ini meski sebatas konsultasi on line. Ia berharap nantinya benar-benar berbentuk layanan telemedicine yang lebih lengkap dan komprehensif.

Baca juga: Berikut cara aman konsultasi dokter online

Dari segi tenaga medis, mengingat terbatasnya jumlah dokter spesialis maka perlu dilakukan pelatihan penanganan dan terapi PTM bagi dokter umum dan tenaga kesehatan lainnya. Pfizer bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Kardiologi Amerika (ACC) misalnya, hadiah peron dinamai secara digital Akademi NCD yang dapat diunduh secara gratis oleh petugas kesehatan.

Petugas kesehatan bisa mendapatkan informasi terkini terkait PTM dan cara mengoptimalkan layanan pengobatan PTM. Aplikasi ini tentunya sangat bermanfaat bagi tenaga kesehatan di daerah yang minim dokter spesialis.

Diharapkan, dengan pelayanan PTM yang lebih optimal, angka kematian bisa ditekan selama dan setelah pandemi. Yang perlu diketahui, penderita penyakit kardiovaskular, diabetes, atau kanker adalah kelompok yang paling rentan terinfeksi COVID-19. Jika terinfeksi, kemungkinan kerusakan juga meningkat.

Baca juga: Jangan Tunda, Lakukan 8 Tips Cegah Penyakit Jantung Mulai Sekarang!

Sumber:

Seminar Online "Rekomendasi Ahli di ASEAN: Pentingnya Mengoptimalkan Pencegahan dan Pelayanan Pengobatan Penyakit Tidak Menular Saat Pandemi ", Sabtu 17 Oktober 2020.

Tips Aman Mengatasi Batuk Kering Saat Hamil

Batuk kering bisa sangat tidak nyaman dan mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bagi ibu hamil. Nah, mengingat kondisi Bunda yang sedang hamil, tentunya Bunda tidak boleh sembarangan minum obat untuk mengatasi batuk kering. Lalu, apa saja tips aman mengatasi batuk kering saat hamil? Ayo cari tahu!

Apa itu Batuk Kering?

Batuk kering merupakan batuk non produktif yang artinya tidak mengeluarkan dahak atau lendir. Batu ini biasanya menyebabkan iritasi dan sebagian besar dikaitkan dengan sensasi kesemutan di tenggorokan.

Batuk kering umumnya disebabkan oleh infeksi virus, terkadang karena iritasi pada tenggorokan, serta alergi. Sedangkan batuk kering yang berkepanjangan biasanya dikaitkan dengan iritan dan mikroba pada saluran pernafasan.

Baca juga: Batuk Tidak Sembuh? Awas Batuk Rejan!

Penyebab Batuk Kering Selama Kehamilan

Ada beberapa penyebab batuk kering saat hamil, di antaranya:

1. Alergi

Jika Anda memiliki alergi, paparan alergen dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menyebabkan batuk kering.

2. Kekebalan rendah

Sistem kekebalan yang melemah selama kehamilan dapat membuat Bunda rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Akibatnya Bunda bisa mengalami batuk kering.

3. Asma

Jika Anda pernah didiagnosis asma sebelum hamil, kemungkinan besar Anda akan mengalami kesulitan bernapas dan batuk kering selama kehamilan.

4. Rinitis alergi

Kondisi ini merupakan peradangan dan iritasi pada selaput lendir di dalam hidung, yang disebabkan oleh hipersensitivitas. Kadar hormon estrogen yang tinggi dalam tubuh dapat memperburuk kondisi ini dan menyebabkan batuk kering.

5. Sakit maag

Jika kandungan asam tersebut masuk ke saluran pernafasan, maka bisa menyebabkan radang selaput saluran pernafasan dan menyebabkan batuk kering.

6. Infeksi virus

Pilek atau flu biasa yang disebabkan oleh infeksi virus dapat menyebabkan batuk kering.

7. Polutan udara

Paparan polutan udara, seperti kabut asap, gas iritan, atau asap tembakau yang mengiritasi bagian belakang tenggorokan dapat menyebabkan batuk kering.

Baca juga: Apakah Mengkonsumsi Obat Batuk Berbahaya bagi Ibu Hamil?

Tips Aman Meredakan Batuk Kering Saat Hamil

Jika Bunda mengalami batuk kering yang masih tergolong ringan, sebaiknya tidak segera minum obatnya. Berikut beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk meredakan batuk kering:

– Jaga agar tubuh Anda terhidrasi dengan terus meningkatkan asupan cairan Bunda harian Anda. Dehidrasi dapat memperburuk batuk kering Bunda dan menurunkan kekebalan tubuh.

– Usahakan agar kepala dan tubuh bagian atas tetap tinggi saat berbaring untuk mencegah kesulitan tidur karena batuk dan kesulitan bernapas.

– Minum campuran air hangat dan air jeruk nipis segar untuk meredakan iritasi tenggorokan.

– Air hangat, sup, dan teh yang dicampur dengan 1 sendok teh madu dapat membantu meredakan batuk dan pilek. Ini karena madu memiliki sifat antiseptik.

– Berkumur dengan larutan garam hangat juga efektif untuk mengatasi batuk kering.

Pengobatan Batuk Kering di Rumah Selama Kehamilan

Selain melakukan beberapa tips di atas untuk meredakan batuk kering, ada beberapa cara yang juga bisa dilakukan di rumah.

– Campur bawang putih mentah ke dalam makanan Bunda. Bawang putih dipercaya cukup efektif meredakan batuk kering.

– Minum teh jahe dapat memberikan efek menenangkan pada tenggorokan dan mencegah iritasi yang menyebabkan batuk kering.

– Minum teh kamomil yang dicampur dengan sedikit madu.

– Konsumsi irisan lemon dengan sedikit bubuk lada hitam di atasnya. Cara ini dipercaya bisa mengurangi gejala batuk.

– Minum jus jeruk untuk meningkatkan kekebalan dan membantu meredakan gejala batuk.

Batuk kering bisa dialami siapa saja. Namun, sebagai ibu hamil tentunya Bunda tidak boleh sembarangan mengonsumsi obat. Lakukan beberapa tips aman di atas untuk meredakan gejala batuk kering saat hamil dan konsultasikan ke dokter.

Baca juga: Pengobatan Alami untuk Meredakan Batuk pada Ibu Hamil

Referensi

Mom Junction. "Batuk Kering Selama Kehamilan: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Rumahan"

5 Cara Sederhana Mengatasi Tekstur Kulit Yang Tidak Rata

Tekstur kulit yang tidak rata biasanya merupakan akibat dari kelebihan sel kulit mati yang menumpuk di permukaan kulit. Akibatnya area kulit terasa kasar atau bergelombang saat disentuh dan juga bisa membuat kulit tampak kusam. Kondisi ini bisa bikin tampilan kulit jadi gak segar, terlihat lebih tua, dan menyebabkan hasil dandan jadi kurang sempurna.

Namun untungnya, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi masalah tekstur kulit yang tidak rata tanpa perlu prosedur kosmetik yang mahal seperti laser atau bahkan operasi. Cukup dengan melakukan langkah-langkah berikut ini secara rutin, dijamin tekstur kulit akan lebih halus dan merata.

Baca juga: Jerawat saat di rumah? Inilah penyebabnya!

Mengatasi Tekstur Kulit Yang Tidak Merata

Anda bisa melakukan 5 cara sederhana berikut untuk mengatasi tekstur kulit yang tidak rata:

1. Minum air yang cukup

Menurut studi di jurnal Nutrisi, memperbaiki tekstur kulit bisa semudah menjaganya tetap terhidrasi sepanjang hari karena kelembapannya membantu membuat kulit tampak lembab dan terasa lebih halus. Kulit yang lembap juga cenderung mengurangi tampilan kusam, yang merupakan gejala umum dari tekstur yang tidak rata.

2. Eksfoliasi

Mengangkat sel kulit mati yang menumpuk juga dapat memperbaiki tekstur kulit. Pastikan Anda melakukan eksfoliasi dua kali seminggu dengan menggosok khusus, sikat pembersih lembut, atau kulit kimia, dan menargetkan area yang terasa tidak rata.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa produk pengelupasan fisik yang terlalu abrasif, atau penggunaan produk pengelupasan yang berlebihan dapat menyebabkan produksi minyak berlebih, yang dapat memperburuk masalah tekstur. Sebagai alternatif, pilih exfoliant kimiawi, karena memiliki sifat yang lebih lembut yang memungkinkan untuk hasil yang lebih baik.

Baca juga: Ingin wajah putih alami, lakukan perawatan kulit dengan air beras korea

3. Vitamin C

Vitamin C adalah salah satu bahan utama untuk meratakan warna kulit sekaligus menghaluskan tekstur yang tidak rata. Melaporkan dari halaman Byride, menambahkan vitamin C ke dalam rutinitas perawatan kulit Anda akan membantu memperbaiki tekstur kulit dengan memberikan antioksidan yang kuat untuk memperbaiki dan melindungi kulit dari kerusakan lingkungan dan memulihkan kekenyalan sekaligus mengurangi pigmentasi, jaringan parut, dan bintik-bintik penuaan.

Selain itu, pertahanan adalah kunci utama untuk menghindari lebih banyak masalah tekstur di masa mendatang. Jadi, tidak ada salahnya untuk memasukkan vitamin C ke dalam rutinitas perawatan kulit Anda.

4. Jarum mikro

Jarum mikro adalah salah satu metode perawatan kulit favorit penggemar kecantikan karena bisa memberikan hasil yang cepat untuk mengatasi masalah kulit yang parah, salah satunya tekstur kulit yang tidak rata. Seperti namanya, prosedur ini menggunakan jarum kecil untuk membuat tusukan di kulit.

Menurut halaman tersebut ByrideProsedur ini akan menyebabkan cedera mikro dan memicu kulit untuk masuk ke mode perbaikan, yang meningkatkan produksi kolagen dan mengurangi munculnya pori-pori, bekas jerawat dan garis-garis halus serta menghasilkan tekstur kulit yang lebih halus secara keseluruhan.

Ini juga memungkinkan penyerapan produk perawatan kulit lebih baik, sehingga produk perawatan kulit akan bekerja lebih efektif. Berbagai prosedur jarum mikro yang cukup populer dan aman adalah dermaroller.dll dan dermapen.

5. Gunakan minyak wajah

Produk berbahan dasar minyak juga ideal untuk mengatur produksi sebum di kulit, sehingga membuat kulit lebih kenyal dan halus. Jika Anda membutuhkan kelembapan ekstra, coba masukkan minyak wajah ke dalam perawatan kulit malam Anda. Keesokan paginya, Anda akan bangun dengan kulit yang lembab, kenyal, dan lembut.

Inilah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tekstur kulit wajah yang tidak rata. Meski hasilnya tidak sekonsisten prosedur kosmetik di klinik, namun dengan ketekunan dan kesabaran, hasilnya bisa memuaskan bahkan permanen.

Baca juga: 4 Manfaat Bengkoang untuk Kecantikan

Sumber:

Byrdie.com. Bagaimana memperbaiki tekstur kulit yang merata

Jurnal Dermatologi India Online. Vitamin C dalam dermatologi

Waspadai Penyakit Musim Transisi saat Pandemi Covid-19

Saat ini kita sudah mulai memasuki musim pancaroba atau masa pancaroba. Hal ini menandakan bahwa kita perlu lebih menjaga kesehatan dan kebersihan agar terhindar dari penyakit yang sering terjadi saat musim pancaroba. Apalagi kita masih di masa pandemi Covid-19.

Ada beberapa penyakit yang lebih rentan menyerang tubuh kita saat musim pancaroba. Setiap orang bisa terkena penyakit ini, tetapi risikonya lebih tinggi pada orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah.

Apa penyakit musim pancaroba yang harus diwaspadai? Simak penjelasannya di bawah ini ya!

Baca juga: Mengenali Penyebab Batuk dari Suara

3 Penyakit Musim Transisi

1. Influenza

Berdasarkan penelitian, kasus influenza atau flu banyak ditemukan saat musim pancaroba. Kasus influenza khususnya cenderung meningkat pada musim hujan.[1] Virus influenza menyerang saluran pernapasan, termasuk hidung, tenggorokan, dan paru-paru dengan beberapa gejala seperti batuk, pilek, dan radang tenggorokan.

Meski berbeda, infeksi virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covd-19 memiliki gejala yang mirip dengan virus influenza, keduanya menyerang saluran pernapasan dan dapat ditularkan melalui droplet.

Secara umum, flu dan batuk akan hilang dengan sendirinya. Namun menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan PenyakitPada beberapa kelompok masyarakat yang memiliki imunitas rendah, seperti anak-anak dan lansia, flu dapat menyebabkan komplikasi yang cukup serius.[2]

2. Batuk dan sakit tenggorokan

Perubahan cuaca yang terjadi dengan cepat selama masa transisi dapat membuat udara menjadi lebih lembab dan kering. Udara yang tidak menentu seperti ini sering kali meningkatkan kadar debu dan jamur di udara, yang dapat menyebabkan sinus kronis, batuk, dan sakit tenggorokan.[3]

3. Alergi Musiman

Pada musim pancaroba, terutama pada musim hujan, serbuk sari dan alergen udara juga cenderung meningkat.[4] Sebab, alergi juga menjadi salah satu penyakit yang kerap muncul saat musim pancaroba.

Alergi dapat menyebabkan iritasi pada paru-paru dan saluran pernafasan, sehingga memicu seseorang yang memiliki riwayat alergi menjadi lebih mudah terserang batuk dan sakit tenggorokan. Nah, penyakit ini juga perlu diwaspadai, ya!

Baca juga: Pernahkah Anda batuk berkepanjangan? Belum tentu Virus Corona!

Bagaimana Mengatasi Masalah Kesehatan selama Musim Transisi dan Pandemi Covid-19?

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa musim pancaroba dapat membuat kita lebih mudah terserang penyakit. Gejala awal yang umum selama musim pancaroba antara lain batuk dan sakit tenggorokan. Pasalnya, udara yang tidak menentu bisa menyebabkan tenggorokan terasa gatal dan tidak nyaman.

Untuk mengatasi dan meredakan gejala batuk dan radang tenggorokan, Anda dapat meminum berbagai macam obat, salah satunya adalah jamu. BPOM telah meluncurkan Original Indonesian Modern Medicine Informatorium (OMAI), yaitu informasi tentang obat-obatan alami yang telah disetujui dan digunakan di Indonesia. OMAI bertujuan untuk meningkatkan penggunaan bahan alami Indonesia yang sangat beragam dan tentunya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Pasalnya, jamu tidak hanya meredakan gejala batuk dan radang tenggorokan, tetapi juga relatif aman jika dikonsumsi sesuai dengan takaran yang dianjurkan.

Herbakof

Sebagai rekomendasi, Anda bisa mengonsumsi HerbaKOF. Obat batuk herbal modern asli Indonesia ini terbuat dari 4 bahan jamu yang dihasilkan survei terbukti bekerja cepat meredakan batuk dan melegakan tenggorokan hanya dalam 10,09 menit.8

Bahan herbal asli Indonesia dari HerbaKOF adalah daun legundi yang mengandung flavonoid untuk melegakan saluran pernafasan. Obat ini juga mengandung jahe untuk menghangatkan dan menenangkan tenggorokan serta daun saga yang dapat membantu meredakan batuk. Selain itu HerbaKOF juga mengandung divine crown yang memiliki efek anti inflamasi.7

HerbaKOF juga sangat mudah ditemukan di berbagai apotek. Jadi, Anda bisa membelinya di apotek terdekat. Cara mengkonsumsinya juga sangat mudah dan praktis, bisa dikonsumsi kapan saja sesuai takaran yang dianjurkan. Selain itu, obat ini juga tidak menyebabkan rasa kantuk yang dapat mengganggu aktivitas Anda.

Jadi, jika Anda mulai merasakan gejala batuk, sebaiknya atasi dengan mengonsumsi HerbaKOF untuk membantu meredakan batuk yang Anda alami.

Selain mengkonsumsi HerbaKOF, Anda juga dapat melakukan beberapa langkah preventif agar terhindar dari penyakit musim pancaroba tersebut, diantaranya: ⁴

  • Selalu cuci tangan Anda dengan benar.
  • Tidur cukup, konsumsi nutrisi seimbang, olahraga, dan atasi stres.
  • Lakukan vaksinasi influenza.
Baca juga: Cara Mudah Mencegah Efek Buruk Polusi Udara!

Referensi:

  1. Institut Kesehatan Nasional. Studi NIH menyoroti peran iklim dalam penularan influenza. 2013. (dikutip 14th Oktober 2020). Tersedia dari: https://www.nih.gov/news-events/news-releases/nih-study-sheds-light-role-climate-influenza-transmission.
  1. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Gejala & komplikasi flu. 2020. (dikutip 14th Oktober 2020). Tersedia dari: https://www.cdc.gov/flu/sym GEJALA/sym GEJALA.htm
  1. Piedmont Healthcare. Dapatkah perubahan cuaca yang tiba-tiba mempengaruhi kesehatan Anda? 2020. (dikutip 14th Oktober 2020). Tersedia dari: https://www.piedmont.org/living-better/can-a-sudden-change-in-the-weather-affect-your-health.
  1. Heyden JS. Mengapa saya sakit saat musim berganti. 2017. (dikutip 14th Oktober 2020). Tersedia dari: https://www.aurorahealthcare.org/patients-visitors/blog/why-do-i-get-sick-when-the-seasons-change.
  1. BPOM RI. Informatoirum pengobatan modern asli Indonesia (OMAI) selama pandemi Covid-19. 2020.
  1. Tes Penempatan Rumah: Herbakof. Jakarta. 2016.
  1. ReconylTM. Ringkasan produk. Data di file. DLBS. 2017.
  1. Tes Penempatan di Rumah: Obat Batuk Herbal. Jakarta. 2014

Langkah Demi Langkah Cegah Anemia pada Ibu Hamil

Selama kehamilan, ada kemungkinan Bunda akan mengalami anemia jika jumlah hemoglobin atau trombosit darah merah yang sehat untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh dan juga janin dalam kandungan berkurang. Apa penyebab anemia pada ibu hamil dan bagaimana cara mengatasinya?

Penyebab paling umum dari anemia adalah kekurangan zat besi. Padahal, selama hamil, tubuh Anda akan memproduksi lebih banyak sel darah merah untuk mendukung pertumbuhan janin. Nah, setiap sel darah merah membutuhkan zat besi untuk pembentukan hemoglobin. Zat besi tidak bisa dibuat oleh tubuh, tapi harus diserap dari makanan yang Anda konsumsi setiap hari.

Jadi, jika Anda tidak mendapatkan cukup zat besi atau zat gizi tertentu lainnya, dapat berdampak pada tubuh Anda yang tidak mampu memproduksi jumlah sel darah merah yang dibutuhkan Ibu dan Janni di dalam rahim.

Zat besi dapat ditemukan di banyak makanan. Namun zat tersebut sulit untuk diserap, sehingga tubuh Anda sulit mendapatkan cukup zat besi selama kehamilan. Ketika Anda tidak memiliki cukup zat besi dalam makanan yang Anda makan, tubuh Anda akan membuat lebih sedikit sel darah merah atau anemia.

Baca juga: Mengenal IPC dan Perbedaannya dengan Setrika Biasa

Penyebab dan Gejala Anemia pada Wanita Hamil

Tubuh menggunakan zat besi untuk membuat hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke jaringan di dalam tubuh. Saat hamil, Ibu membutuhkan dua kali lipat jumlah zat besi untuk memasok oksigen ke bayi.

Nah, jika Anda tidak memiliki cukup simpanan selama kehamilan, Anda bisa mengalami anemia defisiensi besi. Namun, Bunda tidak perlu terlalu khawatir karena anemia ringan saat hamil sudah lumrah.

Namun, ada beberapa wanita hamil yang mungkin mengalami anemia lebih parah karena kadar zat besi atau vitamin yang rendah atau karena alasan lain. Dan mungkin, Ibu adalah salah satunya.

Anemia membuat Bunda merasa lebih lelah dan juga lemas. Jika tidak segera ditangani, ternyata bisa meningkatkan risiko komplikasi serius seperti persalinan prematur, lho! Selain itu, anemia berat dapat membuat Bunda melahirkan bayi yang memiliki berat badan rendah dan mengalami depresi pasca melahirkan.

Baca juga: Mengapa ibu hamil harus mewaspadai anemia? Inilah alasannya!

Gejala anemia defisiensi besi selama kehamilan antara lain kelelahan, lemas, kulit pucat atau kekuningan, detak jantung tidak teratur, sesak napas, pusing, nyeri dada, sakit kepala, dan tangan dan kaki dingin.

Namun perlu diketahui bahwa gejala anemia defisiensi besi mirip dengan yang dialami ibu hamil selama kehamilan. Jadi, untuk mengetahui apakah Bunda mengalami gejala anemia atau tidak, Anda harus menjalani tes darah seperti tes hemoglobin dan tes hematokrit.

Selain itu, penyebab anemia selama kehamilan lainnya adalah karena Ibu mengalami kekurangan folat. Folat adalah vitamin yang ditemukan secara alami dalam sayuran berdaun hijau. Tubuh membutuhkan folat untuk menghasilkan sel-sel baru, termasuk sel darah merah yang sehat.

Saat hamil, Bunda membutuhkan ekstra folat, tapi tidak mendapatkannya dari makanan yang dikonsumsi. Akibatnya, tubuh tidak dapat memproduksi sel darah merah normal yang cukup untuk membawa oksigen ke jaringan di seluruh tubuh.

Baca juga: Tanda Wanita Kekurangan Gizi

Selangkah demi selangkah Mencegah Anemia pada Wanita Hamil

Semua Ibu yang sedang hamil berisiko mengalami anemia. Itu karena, Bunda membutuhkan zat besi dan asam folat lebih banyak dari biasanya. Namun, risikonya jauh lebih tinggi jika Ibu sering muntah atau mual di pagi hari, memiliki dua kehamilan yang berdekatan, hamil anak kembar, tidak makan makanan kaya zat besi, dan pernah mengalami anemia sebelum hamil.

Selama hamil, Bunda membutuhkan 27 miligram zat besi setiap hari. Umumnya vitamin prenatal mengandung zat besi. Oleh karena itu, jika Anda rutin mengonsumsi vitamin prenatal yang mengandung zat besi, maka dapat membantu mencegah dan mengobati anemia defisiensi zat besi selama kehamilan, lho!

Untuk mendapatkan zat besi yang Anda butuhkan, Bunda harus mengonsumsi makanan tinggi zat besi seperti daging merah tanpa lemak, telur, unggas, dan ikan. Zat besi yang berasal dari sumber hewani lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi yang terdapat pada sayuran. Namun, Bunda bisa mendapatkan zat besi dari sereal dan kacang-kacangan.

Agar zat besi lebih banyak diserap tubuh, tak ada salahnya jika rutin meminum jus yang mengandung vitamin C tinggi seperti jus jeruk, tomat, atau strawberry. Namun, jika Anda mengonsumsi suplemen zat besi, hindari jus yang diperkaya kalsium. Itu karena kalsium bisa menurunkan penyerapan zat besi, Bu!

Baca juga: 5 Fakta Anemia pada Kehamilan

Referensi:

WebMD. Anemia pada Kehamilan

UCSF Health. Anemia dan Kehamilan

MayoClinic. Anemia defisiensi zat besi selama kehamilan: Tips pencegahan

Scroll to top